evaluasi CIPP

  1. Pengertian evaluasi program

evaluasi program memiliki beberapa pengertian dari beberapa tokoh antara lain :

  1. Stufflebeam yang dikutip oleh ansyar (1989) bahwa evaluasi adalah proses memperoleh dan menyajikan informasi yang berguna untuk mempertimbangkan alternatif-alternatif pengambilan keputusan.
  2. Djaali, mulyono dan ramli (2000) mendefinisikan bahwa evaluasi sebagai proses menilai sesuatu berdasarkan standar objektifyang telah ditetapkan kemudian diambil keputusan atas objek yang dievaluasi.
  3. Wirawan (2006) evaluasi adalah proses mengumpulkan dan menyajikan informasi mengenai objek informasi,  menilainya dengan standar evaluasi dan hasilnya dipergunakan untuk mengambil keputusan mengenai objek evaluasi.

Terdapat banyak model evaluasi program yang digunakan oleh ahli salah satunya adalah model cipp (context-input-process-product). Model ini dikembangkan oleh stufflebeam, model cipp ini diperkenalkan pada tahun 1971 yang melihat kepada empat dimensi yaitu dimensi context, dimensi input, dimensi process dan dimensi product.

Uraian terhadap empat aspek penilaian (cipp) tersebut:

  1. 1. Evaluasi Context

Evaluasi konteks (context evaluation) merupakan dasar dari evaluasi yang bertujuan menyediakan alasan-alasan (rationale) dalam penentuan tujuan (Baline R. Worthern & James R Sanders : 1979) Karenanya upaya yang dilakukan evaluator dalam evaluasi konteks ini adalah memberikan gambaran dan rincian terhadap lingkungan, kebutuhan serta tujuan (goal).
Evaluasikonteks mencakup analisis masalah yang berkaitan dengan lingkungan program atau kondisi obyektif yang akan dilaksanakan. Berisi tentang analisis kekuatan dan kelemahan obyek tertentu. Stufflebeam menyatakan evaluasi konteks sebagai fokus institusi yang mengidentifikasi peluang dan menilai kebutuhan (1983). Suatu kebutuhan dirumuskan sebagai suatu kesenjangan ( discrepancy view ) kondisi nyata ( reality ) dengan kondisi yang diharapkan ( ideality ). Dengan kata lain evaluasi konteks berhubungan dengan analisis masalah kekuatan dan kelemahan dari obyek tertentu yang akan atau sedang berjalan. Evaluasi konteks memberikan informasi bagi pengambil keputusan dalam perencanaan suatu program yang akan on going. Selain itu, konteks juga bermaksud bagaimana rasionalnya suatu program. Analisis ini akan membantu dalam merencanakan keputusan, menentapkan kebutuhan dan merumuskan tujuan program secara lebih terarah dan demokratis. Evaluasi konteks juga mendiagnostik suatu kebutuhan yang selayaknya tersedia sehingga tidak menimbulkan kerugian jangka panjang ( Isaac and Michael:1981)

2. Evaluasi Input

Evaluasi input (input evaluation) merupakan evaluasi yang bertujuan menyediakan informasi untuk menentukan bagaimana menggunakan sumberdaya yang tersedia dalam mencapai tujuan program.   Evaluasi input meliputi analisis personal yang berhubungan dengan bagaimana penggunaan sumber-sumber yang tersedia, alternatif-alternatif strategi yang harus dipertimbangkan untuk mencapai suatu program. Mengidentifikasi dan menilai kapabilitas sistem, alternatif strategi program, desain prosedur untuk strategi implementasi, pembiayaan dan penjadwalan. Evaluasi masukan bermanfaat untuk membimbing pemilihan strategi program dalam menspesifikasikan rancangan prosedural. Informasi dan data yang terkumpul dapat digunakan untuk menentukan sumber dan strategi dalam keterbatasan yang ada. Pertanyaan yang mendasar adalah bagaimana rencana penggunaan sumber-sumber yang ada sebagai upaya memperoleh rencana program yang efektif dan efisien.

3. Evaluasi Proses (Process Evaluation)

Evaluasi yang dirancang dan diaplikasikan dalam praktik implementasi kegiatan disebut dengan evaluasi proses. Untuk melihat apakah pelaksanaan program sudah sesuai dengan strategi yang telah dilaksanakan tersebut, maka perlu diadakannya evauasi. Evaluasi tersebut dinamakan evaluasi proses. Evaluasi proses termasuk mengidentifikasi permasalahan prosedur pada pelaksanaan kejadian dan aktivitas. Setiap perubahan-perubahan yang terjadi pada aktivitas dimonitor secara jujur dan cermat. Pencatatan aktivitas harian penting dilakukan karena berguna pada pengambilan keputusan untuk menentukan tindak lanjut penyempurnaan dan menentukan kekuatan dan kelemahan program. Stufflebeam juga mengatakan bahwa sevaluasi proses merupakan pengecekan yang berkelanjutan atas implementasi perencanaan (Stufflebeam & Shienfield, 1985:175 dalam Badrujaman, 2009:66).

Tujuan evaluasi proses yaitu untuk mengidentifikasikan atau memprediksi dalam proses pelaksanaan, seperti cacat dalam disain prosedur atau implementasinya (Badrujaman, 2009). Selanjutanya dijelaskan pula bahwa evaluasi proses juga bertujuan untuk menyediakan informasi sebagai dasar memperbaiki program, serta untuk mencatat, dan menilai prosedur kegiatan dan peristiwa. Selain itu, tujuan utama evaluasi proses dikemukakan oleh Worthen and Sanders (1973) dalam Fuddin Van Batavia under Uncategorized (2008), yaitu:

  1. Mengetahui kelemahan selama pelaksanaan termasuk hal-hal yang baik untuk dipertahankan,
  2. Memperoleh informasi mengenai keputusan yang ditetapkan, dan
  3. Memelihara catatan-catatan lapangan mengenai hal-hal penting saat implementasi dilaksanakan.

Memonitor kegiatan, berinteraksi terus menerus, serta dengan mengobservasi kegiatan, dan staf merupakan hal-hal yang dilakukan dalam evaluasi proses. Dalam melakukannya, dinyatakan dalam Badrujaman (2009:66) bahwa hal tersebut dapat melibatkan pengukuran pre-test dan pos-test terhadap pengetahuan dan keterampilan, mengobservasi perilaku tertentu pada siswa, self-report mengenai perbaikan tingkah laku, penilaian performance rutin (tingkat, tes terstandard, portofolio), self-studi yang terus menerus, studi kasus individual, kehadiran dan data kedisiplinan, kesesuaian antara program dengan pelaksanan, keterlaksanaan program, pengukuran sosiometri, serta hambatan-hambatan yang ditemui

4. Evaluasi Produk (Produck Evaluation)

Evaluasi produk adalah evaluasi yang bertujuan untuk mengukur, menginterpretasikan dan menilai pencapaian program (Stufflebeam & Shienfield, 1985:176). Evaluasi produk adalah evaluasi mengukur keberhasilan pencapaian tujuan. Evaluasi dapat juga bertujuan mengumpulkan deskripsi dan penilaian terhadap iuran (outcome) dan menghubungkan itu semua dengan objektif, konteks, input, dan informasi.proses, serta untuk menginterpretasikan kelayakan dan keberhargaan program.

Evaluasi produk dapat dilakukan dengan membuat definisi operasional dan mengukur kriteria pengukuran yang telah dicapai (objektif), melalui pengumpulan nilai dari stakeholder, dengan unjuk rasa (performing) baik dengan menggunakan analisis secara kuantitatif, maupun kualitatif (Trotter et al., 1998:136).

Analisis produk ini diperlukan pembanding antara tujuan, yang ditetapkan dalam rancangan dengan hasil program yang dicapai. Hasil yang dinilai dapat berupa skor tes, prosentase, data observasi, diagram data, sosiometri dan sebaginya yang dapat ditelusuri kaitanya dengan tujuan-tujuan yang lebih rinci. Selanjutnya dilakukan analisis kualitatif tentang mengapa hasilnya seperti itu.

Analisis kuantitatif digunakan untuk menetahui pengaruh program pada tujuan yang ditetapkan. Sedangkan analisis kualitatif digunakan untuk memperkaya informasi mengenai hasil produk.

Berdasarkan tujuan, model CIPP di atas dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, meliputi tujuan (intention) dan yang telah terjadi (actual).

Keempat komponen CIPP bukanlah komponen yang berdiri sendiri-sendiri akan tetapi komponen yang saling berinteraksi secara dinamis (Isaac& William, 1984:12)

Berdasarkan diagram di atas, maka keempat komponen dalam model evaluasi CIPP dapat kita kelompokkan berdasarkan pelaksanaan program, dan penekanan masin-masing komponen tersebut.

  • Garis putus-putus vertical.

Garis yang membagi diagram menjadi dua bagian.

Sebelah kiri merupakan kelompok komponen CIPP yang termasuk dalam kelompok tujuan, artinya evaluasi konteks dan evaluasi input merupakan evaluasi yang dilakukan dalam rangkan mengevaluasi bagian program yang masih bersifat perencanaan bukan pelaksanaan.

Sebelah kanan, komponen evaluasi proses dan produk merupaakn evaluasi yang dilakukan dalam rangka mengevaluasi bagaian dari program yang sedang atau sudah dilaksanakan.

  • Garis putus-putus horizontal

Garis membagi diagram menjadi dua bagian menunjukkan bahwa keempat komponen model evaluasi CIPP dapat dikelompokkan menjadi dua bagian.

Bagian pertama. Bagian atas, dimana evaluasi konteks dan evaluasi produk merupakan evaluasi yang memiliki penekanannya pada hasil.

Bagian kedua. Bagian bawah, dimana terdapat evaluasi input dan evaluasi proses yang menunjukkan bahwa kedua evaluasi tersebut memberikan fokusnya pada proses.

Berdasarkan evaluasi diagram tersebut, evaluasi konteks merupakan evaluasi yang dilakukan untuk merencanakan melalui pemelahaan kebutuhan untuk menetapkan tujuan. Setelah tujuan ditetapkan, maka untuk menstrukturisasikan keputusan dalam arti agar tujuan dapat tercapai maka diperlukan strategi. Menetukan strategi yang tepat dilakukan melalui evaluasi input. Strategi yang telah dirancang kemudian diterapkan dalam pelaksanaan untuk mencapai tujuan.

Hal tersebut yang membuat dalam diagram terdapat keterangan bahwa evaluasi konteks dan evaluasi produk dilakukan secara stimultan.

  • Evaluasi proses untuk melihat implemetasi dari strategi yang dipilih
  • Evaluasi produk menjadi dasar untuk menentukan keputusan mengenai program.
  1. C. Kelebihan dan Kelemahan Model CIPP

Seperti layaknya suatu pendekatan dalam ilmu social, cipp memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan.

1. Keunggulan model cipp:

Cipp memiliki pendekatan yang holistik dalam evaluasi, bertujuan memberikan gambaran yang sangat detail dan luas terhadap suatu proyek, mulai dari konteksnya hingga saat proses implementasi.

Cipp memiliki potensi untuk bergerak di wilayah evaluasi formative dan summative. Sehingga sama baiknya dalam membantu melakukan perbaikan selama program berjalan, maupun memberikan informasi final.

2. Kelemahan model cipp:

Terlalu mementingkan bagaimana proses seharusnya daripada kenyataan di lapangan

Kesannya terlalu top down dengan sifat manajerial dalam pendekatannya

Cenderung fokus pada rational management ketimbang mengakui kompleksitas realitas empiris

KESIMPULAN

Evaluasi produk merupakan evalusi terakhir dari model evaluasi CIPP. Evaluasi produk merupakan evaluasi yang bertujuan untukn mengukur, menginterpretasikan, dan menilai pencapain program (tifflebeam & Shienfield, 1985:176). Evaluasi produk dapat dilakukan dengan membuat definisi operasional dengan mengukur kriteria objektif, melalui pengumpulan penilaian dari stakeholder, dengan unjuk kerja (performing) baik dengan mengunakan analisis kuantitatif atau kualitatif (Trotter et.al., 1998:136).

DAFTAR PUSTAKA

Badrujaman, Aip. 2009. Teori dan praktik evaluasi program bimbingan dan konseling. Jakarta.

Fuddin Van Batavia under Uncategoriezed. (Juli, 2008). Program evaluasi dengan metode CIPP. Diakses/didownload Oktober, 2009 dari http://fuddin.wordpress.com/2008/07/02/teori-evaluasi-dengan-cipp/

gcreg07 member :
Gemma Maulidina
Fatimatul Baroroh
Herninda P
Shihandharu A.H
Nessia Arumilda
Windy Rosalia

Published in: on January 4, 2010 at 3:26 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: http://gcreg07.wordpress.com/2010/01/04/evaluasi-cipp/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: