evaluasi CIPP

  1. Pengertian evaluasi program

evaluasi program memiliki beberapa pengertian dari beberapa tokoh antara lain :

  1. Stufflebeam yang dikutip oleh ansyar (1989) bahwa evaluasi adalah proses memperoleh dan menyajikan informasi yang berguna untuk mempertimbangkan alternatif-alternatif pengambilan keputusan.
  2. Djaali, mulyono dan ramli (2000) mendefinisikan bahwa evaluasi sebagai proses menilai sesuatu berdasarkan standar objektifyang telah ditetapkan kemudian diambil keputusan atas objek yang dievaluasi.
  3. Wirawan (2006) evaluasi adalah proses mengumpulkan dan menyajikan informasi mengenai objek informasi,  menilainya dengan standar evaluasi dan hasilnya dipergunakan untuk mengambil keputusan mengenai objek evaluasi.

Terdapat banyak model evaluasi program yang digunakan oleh ahli salah satunya adalah model cipp (context-input-process-product). Model ini dikembangkan oleh stufflebeam, model cipp ini diperkenalkan pada tahun 1971 yang melihat kepada empat dimensi yaitu dimensi context, dimensi input, dimensi process dan dimensi product.

Uraian terhadap empat aspek penilaian (cipp) tersebut:

  1. 1. Evaluasi Context

Evaluasi konteks (context evaluation) merupakan dasar dari evaluasi yang bertujuan menyediakan alasan-alasan (rationale) dalam penentuan tujuan (Baline R. Worthern & James R Sanders : 1979) Karenanya upaya yang dilakukan evaluator dalam evaluasi konteks ini adalah memberikan gambaran dan rincian terhadap lingkungan, kebutuhan serta tujuan (goal).
Evaluasikonteks mencakup analisis masalah yang berkaitan dengan lingkungan program atau kondisi obyektif yang akan dilaksanakan. Berisi tentang analisis kekuatan dan kelemahan obyek tertentu. Stufflebeam menyatakan evaluasi konteks sebagai fokus institusi yang mengidentifikasi peluang dan menilai kebutuhan (1983). Suatu kebutuhan dirumuskan sebagai suatu kesenjangan ( discrepancy view ) kondisi nyata ( reality ) dengan kondisi yang diharapkan ( ideality ). Dengan kata lain evaluasi konteks berhubungan dengan analisis masalah kekuatan dan kelemahan dari obyek tertentu yang akan atau sedang berjalan. Evaluasi konteks memberikan informasi bagi pengambil keputusan dalam perencanaan suatu program yang akan on going. Selain itu, konteks juga bermaksud bagaimana rasionalnya suatu program. Analisis ini akan membantu dalam merencanakan keputusan, menentapkan kebutuhan dan merumuskan tujuan program secara lebih terarah dan demokratis. Evaluasi konteks juga mendiagnostik suatu kebutuhan yang selayaknya tersedia sehingga tidak menimbulkan kerugian jangka panjang ( Isaac and Michael:1981)

2. Evaluasi Input

Evaluasi input (input evaluation) merupakan evaluasi yang bertujuan menyediakan informasi untuk menentukan bagaimana menggunakan sumberdaya yang tersedia dalam mencapai tujuan program.   Evaluasi input meliputi analisis personal yang berhubungan dengan bagaimana penggunaan sumber-sumber yang tersedia, alternatif-alternatif strategi yang harus dipertimbangkan untuk mencapai suatu program. Mengidentifikasi dan menilai kapabilitas sistem, alternatif strategi program, desain prosedur untuk strategi implementasi, pembiayaan dan penjadwalan. Evaluasi masukan bermanfaat untuk membimbing pemilihan strategi program dalam menspesifikasikan rancangan prosedural. Informasi dan data yang terkumpul dapat digunakan untuk menentukan sumber dan strategi dalam keterbatasan yang ada. Pertanyaan yang mendasar adalah bagaimana rencana penggunaan sumber-sumber yang ada sebagai upaya memperoleh rencana program yang efektif dan efisien.

3. Evaluasi Proses (Process Evaluation)

Evaluasi yang dirancang dan diaplikasikan dalam praktik implementasi kegiatan disebut dengan evaluasi proses. Untuk melihat apakah pelaksanaan program sudah sesuai dengan strategi yang telah dilaksanakan tersebut, maka perlu diadakannya evauasi. Evaluasi tersebut dinamakan evaluasi proses. Evaluasi proses termasuk mengidentifikasi permasalahan prosedur pada pelaksanaan kejadian dan aktivitas. Setiap perubahan-perubahan yang terjadi pada aktivitas dimonitor secara jujur dan cermat. Pencatatan aktivitas harian penting dilakukan karena berguna pada pengambilan keputusan untuk menentukan tindak lanjut penyempurnaan dan menentukan kekuatan dan kelemahan program. Stufflebeam juga mengatakan bahwa sevaluasi proses merupakan pengecekan yang berkelanjutan atas implementasi perencanaan (Stufflebeam & Shienfield, 1985:175 dalam Badrujaman, 2009:66).

Tujuan evaluasi proses yaitu untuk mengidentifikasikan atau memprediksi dalam proses pelaksanaan, seperti cacat dalam disain prosedur atau implementasinya (Badrujaman, 2009). Selanjutanya dijelaskan pula bahwa evaluasi proses juga bertujuan untuk menyediakan informasi sebagai dasar memperbaiki program, serta untuk mencatat, dan menilai prosedur kegiatan dan peristiwa. Selain itu, tujuan utama evaluasi proses dikemukakan oleh Worthen and Sanders (1973) dalam Fuddin Van Batavia under Uncategorized (2008), yaitu:

  1. Mengetahui kelemahan selama pelaksanaan termasuk hal-hal yang baik untuk dipertahankan,
  2. Memperoleh informasi mengenai keputusan yang ditetapkan, dan
  3. Memelihara catatan-catatan lapangan mengenai hal-hal penting saat implementasi dilaksanakan.

Memonitor kegiatan, berinteraksi terus menerus, serta dengan mengobservasi kegiatan, dan staf merupakan hal-hal yang dilakukan dalam evaluasi proses. Dalam melakukannya, dinyatakan dalam Badrujaman (2009:66) bahwa hal tersebut dapat melibatkan pengukuran pre-test dan pos-test terhadap pengetahuan dan keterampilan, mengobservasi perilaku tertentu pada siswa, self-report mengenai perbaikan tingkah laku, penilaian performance rutin (tingkat, tes terstandard, portofolio), self-studi yang terus menerus, studi kasus individual, kehadiran dan data kedisiplinan, kesesuaian antara program dengan pelaksanan, keterlaksanaan program, pengukuran sosiometri, serta hambatan-hambatan yang ditemui

4. Evaluasi Produk (Produck Evaluation)

Evaluasi produk adalah evaluasi yang bertujuan untuk mengukur, menginterpretasikan dan menilai pencapaian program (Stufflebeam & Shienfield, 1985:176). Evaluasi produk adalah evaluasi mengukur keberhasilan pencapaian tujuan. Evaluasi dapat juga bertujuan mengumpulkan deskripsi dan penilaian terhadap iuran (outcome) dan menghubungkan itu semua dengan objektif, konteks, input, dan informasi.proses, serta untuk menginterpretasikan kelayakan dan keberhargaan program.

Evaluasi produk dapat dilakukan dengan membuat definisi operasional dan mengukur kriteria pengukuran yang telah dicapai (objektif), melalui pengumpulan nilai dari stakeholder, dengan unjuk rasa (performing) baik dengan menggunakan analisis secara kuantitatif, maupun kualitatif (Trotter et al., 1998:136).

Analisis produk ini diperlukan pembanding antara tujuan, yang ditetapkan dalam rancangan dengan hasil program yang dicapai. Hasil yang dinilai dapat berupa skor tes, prosentase, data observasi, diagram data, sosiometri dan sebaginya yang dapat ditelusuri kaitanya dengan tujuan-tujuan yang lebih rinci. Selanjutnya dilakukan analisis kualitatif tentang mengapa hasilnya seperti itu.

Analisis kuantitatif digunakan untuk menetahui pengaruh program pada tujuan yang ditetapkan. Sedangkan analisis kualitatif digunakan untuk memperkaya informasi mengenai hasil produk.

Berdasarkan tujuan, model CIPP di atas dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, meliputi tujuan (intention) dan yang telah terjadi (actual).

Keempat komponen CIPP bukanlah komponen yang berdiri sendiri-sendiri akan tetapi komponen yang saling berinteraksi secara dinamis (Isaac& William, 1984:12)

Berdasarkan diagram di atas, maka keempat komponen dalam model evaluasi CIPP dapat kita kelompokkan berdasarkan pelaksanaan program, dan penekanan masin-masing komponen tersebut.

  • Garis putus-putus vertical.

Garis yang membagi diagram menjadi dua bagian.

Sebelah kiri merupakan kelompok komponen CIPP yang termasuk dalam kelompok tujuan, artinya evaluasi konteks dan evaluasi input merupakan evaluasi yang dilakukan dalam rangkan mengevaluasi bagian program yang masih bersifat perencanaan bukan pelaksanaan.

Sebelah kanan, komponen evaluasi proses dan produk merupaakn evaluasi yang dilakukan dalam rangka mengevaluasi bagaian dari program yang sedang atau sudah dilaksanakan.

  • Garis putus-putus horizontal

Garis membagi diagram menjadi dua bagian menunjukkan bahwa keempat komponen model evaluasi CIPP dapat dikelompokkan menjadi dua bagian.

Bagian pertama. Bagian atas, dimana evaluasi konteks dan evaluasi produk merupakan evaluasi yang memiliki penekanannya pada hasil.

Bagian kedua. Bagian bawah, dimana terdapat evaluasi input dan evaluasi proses yang menunjukkan bahwa kedua evaluasi tersebut memberikan fokusnya pada proses.

Berdasarkan evaluasi diagram tersebut, evaluasi konteks merupakan evaluasi yang dilakukan untuk merencanakan melalui pemelahaan kebutuhan untuk menetapkan tujuan. Setelah tujuan ditetapkan, maka untuk menstrukturisasikan keputusan dalam arti agar tujuan dapat tercapai maka diperlukan strategi. Menetukan strategi yang tepat dilakukan melalui evaluasi input. Strategi yang telah dirancang kemudian diterapkan dalam pelaksanaan untuk mencapai tujuan.

Hal tersebut yang membuat dalam diagram terdapat keterangan bahwa evaluasi konteks dan evaluasi produk dilakukan secara stimultan.

  • Evaluasi proses untuk melihat implemetasi dari strategi yang dipilih
  • Evaluasi produk menjadi dasar untuk menentukan keputusan mengenai program.
  1. C. Kelebihan dan Kelemahan Model CIPP

Seperti layaknya suatu pendekatan dalam ilmu social, cipp memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan.

1. Keunggulan model cipp:

Cipp memiliki pendekatan yang holistik dalam evaluasi, bertujuan memberikan gambaran yang sangat detail dan luas terhadap suatu proyek, mulai dari konteksnya hingga saat proses implementasi.

Cipp memiliki potensi untuk bergerak di wilayah evaluasi formative dan summative. Sehingga sama baiknya dalam membantu melakukan perbaikan selama program berjalan, maupun memberikan informasi final.

2. Kelemahan model cipp:

Terlalu mementingkan bagaimana proses seharusnya daripada kenyataan di lapangan

Kesannya terlalu top down dengan sifat manajerial dalam pendekatannya

Cenderung fokus pada rational management ketimbang mengakui kompleksitas realitas empiris

KESIMPULAN

Evaluasi produk merupakan evalusi terakhir dari model evaluasi CIPP. Evaluasi produk merupakan evaluasi yang bertujuan untukn mengukur, menginterpretasikan, dan menilai pencapain program (tifflebeam & Shienfield, 1985:176). Evaluasi produk dapat dilakukan dengan membuat definisi operasional dengan mengukur kriteria objektif, melalui pengumpulan penilaian dari stakeholder, dengan unjuk kerja (performing) baik dengan mengunakan analisis kuantitatif atau kualitatif (Trotter et.al., 1998:136).

DAFTAR PUSTAKA

Badrujaman, Aip. 2009. Teori dan praktik evaluasi program bimbingan dan konseling. Jakarta.

Fuddin Van Batavia under Uncategoriezed. (Juli, 2008). Program evaluasi dengan metode CIPP. Diakses/didownload Oktober, 2009 dari http://fuddin.wordpress.com/2008/07/02/teori-evaluasi-dengan-cipp/

gcreg07 member :
Gemma Maulidina
Fatimatul Baroroh
Herninda P
Shihandharu A.H
Nessia Arumilda
Windy Rosalia

Advertisements
Published in: on January 4, 2010 at 3:26 am  Leave a Comment  

evaluasi Gysberg

Evaluasi program bimbingan dan konseling dan jasa serta aktivitas mereka, telah menjadi bagian dari dialog profesional sejak tahun 1920 (Gysbers, 2004). Konselor sekolah terus diminta untuk mempertunjukkan bahwa pekerjaan mereka berperan untuk kesuksesan siswa, terutama sekali prestasi akademis siswa

Tiga macam evaluasi yang diperlukan konselor sekolah untuk mempertunjukkan pekerjaan mereka di dalam kerangka program bimbingan dan konseling komprehensif berperan untuk kesuksesan seluruh siswa. Evaluasi pertama yaitu evaluasi personil dimana konselor sekolah diawasi dan dievaluasi. Evaluasi kedua, yaitu evaluasi program dimana mereview program apakah sesuai dengan standar program yang ditetapkan untuk memastikan tingkatan dari program yang diterapkan. Evaluasi ketiga, yaitu evaluasi hasil dimana fokus evaluasi terhadap dampak dari kegiatan dan layanan program yang diberikan kepada siswa, sekolah, dan masyarakat.

Masing-masing evaluasi sangatlah penting. Dikatakan penting karena mereka saling berhubungan satu sama lain.

EVALUASI BIMBINGAN DAN KONSELING KOMPREHENSIF

EVALUASI PROGRAM + EVALUASI PERSONAL = EVALUASI HASIL

  1. EVALUASI PERSONIL

Evaluasi personil merupakan prosedur yang digunakan untuk menilai keefektifan konselor sekolah dalam melaksanakan kerangka kerja program bimbingan dan konseling komprehensif. Penilaian dibuat berdasarkan keefektifan konselor sekolah menggunakan standar pencapaian personil, kriteria, dan deskriptor yang diperoleh secara langsung dari kerangka kerja program bimbingan dan konseling komprehensif (Gysbers & Henderson, 2006; Missouri Department of Elementary and Secondary Education, 2000). Standar pencapaian personil diakui sebagai ukuran tingkatan perbandingan yang digunakan untuk menilai lingkup kerja dari konselor sekolah di dalam keseluruhan program.  Kriteria  dan deskriptor diperlukan untuk meyakinkan penilai bahwa semua aspek penting dari tiap standar pencapaian personil telah teridentifikasi dan dapat dievaluasi.

Personil program diperlukan untuk mengerjakan suatu program, dan program harus tepat dan berfungsi dalam rangka mencapai hasil yang diinginkan.

  1. EVALUASI PROGRAM

Evaluasi program adalah prosedur yang digunakan untuk menentukan derajat tingkat suatu sekolah mengenai program bimbingan dan konseling komprehensif yang tepat dan berfungsi secara penuh. Penilaian dibuat mengenai status dari suatu program yang menggunakan standard dan kreiteria evaluasi program yang diperoleh secara langsung dari kerangka kerja program bimbingan dan konseling komprehensif ( Gysbers & Henderson, 2006). Standard dan kriteria evaluasi program diperlukan untuk memastikan bahwa suatu program bimbingan dan konseling secara penuh terwakili. Ketika standard dan kriteria telah terpilih dan mewakili suatu program bimbingan dan konseling komprehensif, kemudian dibuat suatu skala untuk masing-masing ukuran yang terbentang dari poin 5 sampai 6 atau 7. Hasil dari evaluasi program mengungkapkan di mana kemajuan telah dibuat atau kekurangan dari implementasi keseluruhan program bimbingan dan konseling.

  1. EVALUASI HASIL

Evaluasi hasil merupakan prosedur yang digunakan untuk menjawab pertanyaan, “Apakah akibat dari dilakukannya program bimbingan dan konseling (kegiatan dan layanan) membuat para siswa sukses, khususnya pada  prestasi akademis siswa?”

Hasil yang ditujukan secara khas dalam evaluasi hasil meliputi kehadiran, disiplin, nilai tes prestasi, dan perilaku saat di kelas. Perubahan yang positif dalam hasil seperti ini diantisipasi sebagai hasil dari program bimbingan dan konseling secara menyeluruh pada siswa. Rekomendasi tersebut oleh konselor sekolah dikembangkan menjadi suatu rencana evaluasi yang merupakan bagian dari implementasi dari keseluruhan program bimbingan dan konseling.

Evaluasi diri dan evaluasi administrasi

Kami merekomendasikan agar semua konselor dievaluasi secara berkala. Seringkali, konselor dalam masa percobaan di tahun terakhir dari masa kontrak kerjanya, dan yang masa kontraknya belum diperpanjang dikarenakan hasil kerjanya dievaluasi lebih sering. Sesuai dengan tanggal yang berlaku dalam hukum negara.

Untuk mengemban tanggung jawab evaluasi mereka dengan adil, tim penilai hasil kerja konselor sekolah harus dilatih untuk memahami tugas-tugas konselor sekolah dan sikap profesional juga dengan menggunakan metode-metode yang sesuai untuk mengumpulkan data yang dapat mendukung evaluasi (Synatschk, 2002). Bagi konselor sekolah dasar, pengevaluasi bagian administrasi biasanya adalah kepala sekolah. Untuk konselor yang menangani lebih dari satu gedung, administrator bimbingan kantor pusat boleh mengatur proses evaluasi atau mengangkat seseorang sebagai evaluator utama, dengan administrator lainnya menyediakan data yang relevan untuk evaluator. Evaluator utama mengatur konferensi evaluasi atau dapat mengkoordinasi konferensi evaluasi gabungan. Direktur bimbingan sering  menjadi petugas pengawas, dan dengan jabatan ini mendiskusikan hasil evaluasi dengan evaluator utama sebelum hasilnya dipresentaskan kepada anggota staf.

Administrator bimbingan kantor pusat juga siap untuk menyediakan data atau membantu evaluator utama dalam membuat keputusan evaluasi terakhir. Pimpinan staf wilayah program bimbingan biasanya dipilih untuk terlibat dalam evaluasi konselor perorangan saat:

ü   Status rekomendasi kontrak akan berarti penurunan pada status kontrak,

ü   Tingkat keseluruhan dari seorang konselor hanya salah satu dari tidak memuaskan dan sangat baik,

ü   Terdapat ketidaksetujuan antara para evaluator, termasuk konselor, setelah evaluasi dirinya.

Proses evaluasi diri dan pekerjaan terdiri atas enam langkah-langkah: pengumpulan data, analisis data, penyelesaian penulisan evaluasi/ formulir draf evaluasi, konferensi evaluasi, analisis setalah evaluasi dan penyelesaian formulir evaluasi. Pada proses ini, konselor sekolah dan evaluator menyelesaikan 3 langkah pertama secara terpisah. Pada konferensi evaluasi, langkah keempatnya, mereka mendiskusikan evaluasi mereka terhadap hasil kerja konselor. Evaluator kemudian mempengaruhi langkah kelima dan keenam, memerlukan tanda tangan penting, dan  mengantarkan salinan dari formulir tersebut seperti yang telah ditetapkan. Formulir yang digunakan dalam proses harus mendukung kesesuaian dan evaluasi pekerjaan konselor sekolah yang adil dan relevan pada harapan yang telah diucapkan untuk pekerjaan mereka didalam hubungannya dengan penentuan program bimbingan sebaik dan sesuai dengan deskripsi tugas konselor di tiap sekolah.  Memiliki tim konselor atau konselor dan adminstrator yang mengembangkan instrumen dan mengkaitkan proses membantu membuat sistem evaluasi pekerjaan yang relevan dan dimengerti (Bunch, 2002; Synatsck, 2002).

Penjelasan mengenai bagaimana proses evaluasi diri dan pekerjaan bekerja antara lain sebagai berikut:

  1. Pengumpulan data
  2. Analisis data
  3. Penyelesaian konsep formulir evaluasi
  4. Konferensi Evaluasi
  5. Analisis setelah evaluasi
  6. Penyelesaian formulir evaluasi

Tujuan evaluasi adalah untuk mengukur tingkat kontribusi konselor pola pengembangan bimbingan di kampus dan distrik. Sebagaimana usaha mereka untuk meningkatkan tingkat komitmen dan kemampuan pegetahuan keterampilan profesional.

Tim penilai menngukur usaha konselor untuk meraih pencapaian yang telah mereka tetapkan di bawah kepemimpinan dari pemimpin program bimbingan mereka, pengarah bimbingan, kepala sekolah.

Merancang evaluasi program

Sampai kemunculan bimbingan dan konseling pada awal 1900, pemimpin dihadapkan pada tugas untuk menentukan kegiatan dan layanan apa yang merupakan program yang utuh.  Di dalam merancang suatu evaluasi hasil, beberapa jenis data dapat digunakan. Yang pertama ialah memproses data dengan cara menguraikan  kegiatan dan layanan bimbingan dan konseling apa yang telah disajikan (kapan disajikannya, dan buat siapa). Yang kedua yaitu Persepsi data, menceritakan kepada  para siswa, orang tua, guru, pengurus mengenai pikiran dan perasaan pelaksanaan kegiatan dan layanan oleh konselor sekolah. Yang ketiga, menghasilkan data yaitu perubahan perilaku para siswa yang nyata dan dapat diamati seperti prestasi akademik. Semua tiga jenis data bermanfaat untuk  memastikan dampak dari program bimbingan dan konseling secara menyeluruh  pada perilaku siswa ( ASCA, 2005).

Sistem pendukung hasil evaluasi

Aktivitas itu pada umumnya menjadi bagian dari pendukung komponen sistim dari suatu program bimbingan dan konseling sekolah dan dapat dievaluasi termasuk pengembangan fakultas, pengembangan konselor sekolah profesional, dan penggunaan/kepuasan program bimbingan. Cara untuk mengevaluasi aktivitas ini diperkenalkan di dalam contoh-contoh berikut.

Contoh: Bentuk Evaluasi Tempat Kerja Fakultas. Jika Konselor-konselor sekolah melakukan pengembangan tempat kerja fakultas, hasil yang diharapkan adalah kepuasan fakultas dengan tempat kerja. Dokumentasi hasil-hasil itu dapat tercapai melalui bentuk evaluasi tempat kerja yang diselesaikan oleh para guru, dengan wujud-wujud yang digunakan menjadi wilayah penggunaan untuk semua tempat kerja pengembangan fakultas profesional.

Contoh: Sertifikasi ulang. Bekerja pada sertifikasi ulang konselor sekolah, termasuk kursus-kursus pengambilan dan menghadiri tempat kerja dan konferensi-konferensi, adalah sesuatu bagian yang penting dari waktu komitmen-komitmen konselor sekolah di dalam komponen dukungan sistim. Dokumentasi konselor-konselor sekolah sertifikat-sertifikat pembaruan menerima atas penyelesaian proses sertifikasi ulang. Penyelesaian tanda dokumen lain tempat kerja atau kehadiran pada konferensi-konferensi profesional dapat juga digunakan.

Contoh: Survey penggunaan/kepuasan. Contoh lain dari evaluasi hasil-hasil di dalam komponen dukungan sistim adalah pemakaian penggunaan/kepuasan program bimbingan dan konseling dengan teliti. Survei-survei ini memerlukan pertanyaan para siswa dan para guru tentang tingkat di mana mereka menggunakan program bimbingan dan konseling dan bagaimana mereka ada bersamanya. Suatu survei yang serupa dapat juga diselesaikan oleh konselor-konselor sekolah yang menaksir persepsi-persepsi jasa mereka, mereka menyediakan kepada para siswa dan betapa sangat menolong jasa itu. Survei yang muncul bertindak sebagai dokumentasi.

Menetapkan suatu rencana untuk mengumpulkan hasil-hasil evaluasi data

Ada bermacam tempat-tempat di dalam program dan sejumlah cara untuk mengumpulkan hasil-hasil evaluasi data. Empat komponen program digunakan sebagai bentuk untuk mengidentifikasi  aktivitas bimbingan dan konseling untuk dievaluasi dan untuk mengorganisir hasil-hasil proses evaluasi. Satu tugas yang penting di dalam proses ini adalah menetapkan suatu rencana untuk mengumpulkan hasil-hasil evaluasi data. Empat komponen program digunakan sebagai penyelenggara. Pengelompokan-pengelompokan tingkat kelas diidentifikasi; ruang disediakan untuk mengidentifikasi aktivitas bimbingan dan konseling adalah untuk dievaluasi pada tahun yang ditentukan, bagaimana evaluasi itu akan berlangsung, siapa yang akan bertanggung jawab, dan kapan itu akan terjadi.

Memilih atau mengembangkan instrumen-instrumen

Berikut ini adalah petunjuk untuk memilih instrumen-instrumen yang ada atau mengembangkan instrumen-instrumen baru untuk mengumpulkan hasil data evaluasi siswa.

a)         Hasil-hasil yang diharapkan untuk masing-masing aktivitas bimbingan harus diukur sama secara langsung.

b)         Instrumen untuk mengumpulkan hasil evaluasi data harus yang sesuai dalam kaitannya dengan isi, pemahaman, peluang untuk menanggapi, dan kesederhanaan mekanika.

c)         Arah untuk administrasi, membuat angka, dan pelaporan untuk semua instrumen harus jelas, ringkas, dan lengkap untuk memastikan keseragaman dan ketelitian di dalam pengumpulan data.

d)         Waktu yang diperlukan untuk mengatur, membuat angka, dan evaluasi pelaporan instrumen-instrumen harus berkelanjutan untuk memperoleh informasi yang dapat dipercaya.

e)         Instrumen evaluasi perlu menjumpai ujian-ujian dari kebenaran, kehandalan, dan kebijaksanaan.

Jadwal pengumpulan data

Menurut Johnson, hasil-hasil jangka panjang berfokus kepada bagaimana program-program mempengaruhi para siswa setelah mereka sudah meninggalkan sekolah. Perantara muncul menekankan program apa yang berdampak kepada para siswa beberapa periode waktu setelah mereka sudah ikut bagian di dalam aktivitas program bimbingan dan konseling. Hasil-hasil segera adalah hasil-hasil yang menguraikan dampak dari aktivitas bimbingan dan konseling yang spesifik segera setelah aktivitas telah diselesaikan.

Jadwal pengumpulan data untuk hasil-hasil evaluasi harus dibentuk sebelum awal tanggal periode hasil-hasil evaluasi dan perlu ditetapkan

Y       aktivitas bimbingan di mana data itu akan dikumpulkan

Y       instrumen-instrumen yang digunakan

Y       kelompok atau individu dari siapa data akan dikumpulkan

Y       waktu ketika data akan  dikumpulkan (pretest, posttest, akhir tahun, dan sebagainya) dalam hubungannya dengan jadwal proses

Y       orang-orang yang akan bertanggung jawab atas pengumpulan data

Pengumpulan data evaluasi untuk kelompok membuat perbandingan-perbandingan pretest/posttest atau pembandingan kelompok-kelompok/kontrol yang bersifat percobaan perlu untuk menyesuaikan diri lekat kepada waktu yang diperlukan untuk melengkapi aktivitas bimbingan dan konseling yang dipilih. Pretest atau data garis belakang perlu untuk dikumpulkan sebelum inisiasi aktivitas bimbingan dan konseling, dan posttest data perlu dikumpulkan pada suatu waktu yang ditetapkan setelah penyelesaian aktivitas bimbingan dan konseling yang sedang dievaluasi (hasil-hasil segera). Beberapa disain juga memerlukan koleksi data pada periode tertentu selama periode aktivitas bimbingan dan konseling atau sebagai tindak lanjut sekali waktu setelah penyelesaian aktivitas bimbingan dan konseling (perantara atau hasil-hasil jangka panjang). Semua data seperti itu perlu untuk dikumpulkan pada suatu jadwal yang ditentukan sehingga semua orang yang terlibat di dalam proses hasil-hasil evaluasi dapat membuat rencana-rencana dan menyelesaikan pengumpulan data menurut desain.

Memastikan staf untuk pengumpulan dan pengolahan data

Staf yang cukup untuk menangani hasil evaluasi, termasuk pengumpulan data dan pengolahan data, merupakan hal yang penting. Organisir kelompok kerja untuk

perencanaan dan koordinasi pengumpulan dan pengolahan data

perilaku dalam jabatan pelatihan setiap siapa yang akan bertanggung jawab atas pengumpulan data yang nyata

pengadministrasian instrumen-instrumen

penanganan pekerjaan secara rinci dari menyiapkan dan membagi-bagikan instrumen-instrumen, mengumpulkan dan mengorganisir instrumen-instrumen yang diselesaikan, membuat angka mereka, melakukan entri data dan analisis data, dan menyiapkan meja-meja

menulis laporan evaluasi

Ketidakhadiran dari Staf yang cukup untuk hasil-hasil evaluasi sering menyebabkan keseluruhan proses hasil-hasil evaluasi terurai. Gejala-gejala dari Staf yang tidak cukup dapat muncul dalam wujud jadwal-jadwal yang tidak dijumpai, pembalasan dari para guru, error di dalam entri data dan analisa, dan laporan taklengkap yang tidak dikomunikasikan cukup untuk program dan personil administratif.

Staf diperlukan untuk hasil-hasil evaluasi yang tidak bisa distandardisasi oleh karena perbedaan-perbedaan di dalam sifat dan ukuran dari proyek-proyek hasil-hasil evaluasi dari sekolah ke sekolah. Staf yang mengerjakan secara sungguh-sungguh skala hasil evaluasi untuk semua kelas di suatu sistem persekolahan yang besar akan benar-benar memerlukan lebih banyak kepemimpinan dan lebih banyak orang dibanding hasil-hasil evaluasi dari aktivitas bimbingannya yang spesifik dalam satu kelas. Setidak-tidaknya, besar atau kecil, spesifik atau menyeluruh, sukses dari hasil-hasil evaluasi bergantung pada tugas dari waktu yang spesifik kepada staf untuk perencanaan, implementasi, dan penafsiran hasil-hasil evaluasi data.

Pengumpulan data

Semua hasil-hasil data yang harus dikumpulkan menurut suatu jadwal pengumpulan dan dengan administrasi instrumen-instrumen evaluasi yang tepat. Proses ini memerlukan perencanaan secara hati-hati dan kooperasi yang penuh semua orang yang bertanggung jawab untuk mengumpulkan atau menyediakan informasi yang diperlukan. Usulan yang berikut bisa sangat membantu di dalam menerapkan pengumpulan data akurat dan efisien.

1.   Tujuan-tujuan dan rincian rencana hasil-hasil penilaian harus dikomunikasikan kepada semua pengurus yang akan dilibatkan di dalam proses evaluasi. Sebuah teknik yang baik untuk memperkenalkan para guru dan para konselor dengan instrumen-instrumen evaluasi untuk mengijinkan mereka melengkapi semua instrumen yang mereka akan urus.

2.   Semua perintah instrumen dan evaluasi harus disiapkan dan dirancang dengan baik sebelum tanggal untuk menerapkan pengumpulan data. Perencanaan secara hati-hati dari logistik tentang pengumpulan dan pengolahan hasil evaluasi data akan membantu menghindari keterlambatan dan memastikan sesuai dengan jadwal pengumpulan data.

3.   Semua responden (para siswa, para guru, orang tua) harus diberitahukan tentang tujuan-tujuan atas pengumpulan informasi, dan kerahasiaan harus dapat dipastikan.

4.   Pengumpulan data harus dikenali dengan baik berkenaan dengan target pengelompokan, tanggal, dan orang-orang yang bertanggung jawab untuk pengumpulan mereka. Tindakan pencegahan sederhana ini akan membantu mencegah data yang tidak berlabel dan yang hilang dan akan memungkinkan tindak lanjut jika pertanyaan-pertanyaan muncul mengenai data.

5.   Pengujian Evaluasi dan instrumen-instrumen lain harus dicapai dan dikodekan karena pengolahan secepat mungkin dilakukan setelah data dikumpulkan. Rencana pengkodean yang diatur sebelumnya harus diikuti dan kemudian diteliti lagi untuk memastikan ketelitian. Banyak instrumen dapat dicapai dan data dimasukkan ketika lembar jawaban yang sesuai telah digunakan dan peralatan membuat angka telah tersedia. Rencana untuk pemakaian mesin penilai lembar jawaban dan entri data yang terkait akan mengakibatkan kecepatan dan ketelitian yang lebih besar di dalam pengolahan evaluasi data untuk dianalisa.

Analisa hasil-hasil evaluasi data

Konselor-konselor sekolah tidaklah harus orang-orang yang trampil statistik untuk secara penuh mengerti analisis data, tetapi para konselor sekolah benar-benar perlu untuk menguasai beberapa konsep-konsep dasar statistik untuk dengan sukses menganalisa dan menginterpretasikan hasil-hasil data. Sebagai tambahan, para konselor sekolah perlu untuk mengetahui bagaimana caranya memisahkan data sewajarnya, memasukkan data di lembar kerja seperti Excel, analisis yang sesuai, dan mengembangkan grafik-grafik dan mempertunjukkan bagan-bagan data di dalam cara yang dapat dimengerti.

Pemisahan Data

Pemisahan data adalah salah satu langkah penting dalam analisis data karena ini memugkinkan kita untuk melihat apakah ada para siswa yang tidak bekerja sebaik yang lain. ASCA mengusulkan bahwa wilayah-wilayah yang umum untuk pemisahan adalah sebagai berikut:

  • Jenis kelamin
  • Etnis
  • Status ekonomi-sosial (bebas dan pengurangan makan siang)
  • Kejuruan (multiperiod program kejuruan perdagangan)
  • Bahasa berbicara di rumah
  • Pendidikan khusus
  • Tingkat kelas
  • Guru

Menggunakan lembar kerja computer

Merupakan salah satu alat yang penting untuk menganalisis hasil data, seperti Excel. Kita dapat memasukkan hasil data dan bermacam-macam tingkah laku sesuai dengan prosedur statistik. Bermacam-macam tabel dan grafik dapat dibuat untuk menunjukkan hubungan dari hasil data seperti hasil tes prestasi dan tes lainnya seperti SAT atau ACT. Beberapa tipe evaluasi informasi tidak dengan mudah sesuai dengan analisis lembar kerja computer, bagaimanapun fakta akan lebih berarti jika di analisis oleh seseorang yang ahli.

Menulis laporan hasil evaluasi

Laporan hasil evaluasi ini biasanya ditujukan kepada administrator, dewan pendidikan, pembuat program, kepala sekolah, guru-guru, konselor dan masyarakat. Ada tiga tipe laporan:

  1. Laporan teknis

Merupakan deskripsi yang lengkap dari hasil evaluasi yang telah dibuat, menggunakan rancangan, hasil dan kesimpulan serta saran. Secara garis besar isi dari laporan teknis dari hasil evaluasi program bimbingan dan konseling komprehensif, yaitu:

  1. Deskripsi program. Pada bagian ini laporan menjelaskan secara terperinci dan spesifik mengenai kegiatan bimbingan dan konseling yang dievaluasi, anggota serta fasilitas yang ada.
  2. Rancangan evaluasi. Mencakup deskripsi dari prosedur yang digunakan untuk merumuskan pertanyaan evaluasi dan deskripsi yang terperinci mengenai hipotesa evaluasi, perbandingan, penggunaan instrumen dan bentuk-bentuk analisis yang digunakan.
  3. Hasil evaluasi. Laporan dari hasil evaluasi secara lengkap dan terperinci di deskripsikan pada bagian ini.
  4. Kesimpulan, diskusi dan saran. Berisi tentang jawaban dari pertanyaan-pertanyaan evaluasi yang mendasar dan mendiskusikan implikasi-implikasi yang ditemukan, kelebihan dan kekurangan dari program serta saran untuk modifikasi program.
  5. Lampiran. Mencakup ilustrasi, penjelasan, dan materi dukungan sebagai informasi untuk pembaca.
  6. Laporan ahli

Laporan hasil evaluasi untuk ahli dan staf administrasi serta dewan pendidikan yang berada di lingkungan sekolah sebaiknya singkat dan jelas. Laporan ahli sebaiknya mencakup ringkasan yang singkat mengenai penemuan, kesimpulan dan saran. Laporan ini juga dapat diambil langsung dari kesimpulan, diskusi dan saran pada bagian laporan teknis.

  1. Kartu laporan. Contohnya seperti Support Personnel Accountability Report Card (SPARC). SPARC adalah sebuah dokumen dua halam yang menyediakan tempat untuk laporan pada sepuluh aspek penting dalam sebuah program termasuk komentar dari kepala sekolah, iklim sekolah dan keamanan, dukungan anggota keompok siswa, hasil-hasil siswa, prestasi utama, keterlibatan orang tua, pengukuran, fokus pada perbaikan, komunitas, dan tetap memberikan informasi. Kartu laporan dapat juga dikatakan sebagai ringkasan dari program yang menyediakan kesempatan untuk menunjukkan data kasus yang relevan yang mencakup semua responden dalam dua halaman.
Published in: on January 2, 2010 at 5:37 pm  Leave a Comment  

evaluasi formatif dan sumatif

Selain model “evaluasi lepas dari tujuan:, Michael Scriven juga mengembangkan model lain, yaitu model formatif-sumatif. Model ini menunjukkan adanya tahapan dan lingkup objek yang dievaluasi, yaitu evaluasi yang dilakukan pada waktu program masih berjalan (disebut evaluasi formatif) dan ketika program sudah selesai atau berakhir (disebut evaluasi sumatif).

Berbeda dengan model yang pertama dikembangkan, model yang kedua ini ketika melaksanakan evaluasi, evaluator tidak dapat melepaskan diri dari tujuan. Tujuan evaluasi formatif memang berbeda dengan tujuan evaluasi sumatif. Dengan demikian model yang dikemukakan oleh Michael Scriven ini menunjukkan tentang “apa, kapan, dan tujuan” evaluasi tersebut dilaksanakan.

Para evaluator pendidikan, termasuk guru-guru yang mempunyai tugas evaluasi, tentu sudah mengenal dengan baik apa yang dimaksud dengan evaluasi formatif dan sumatif. Hampir setiap bulan guru-guru melaksanakan evaluasi formatif dalam bentuk ulangan harian. Evaluasi tersebut dilaksanakan untuk mengetahui sampai berapa tinggi tingkat keberhasilan atau ketercapaian tujuan untuk masing-masing pokok bahasan. Dikarenakan luas atau sempitnya materi yang tercakup didalam pokok bahasan setiap mata pelajaran tidak sama, maka tidak dapat ditentukan dengan pasti kapan eveluasi formatif dilaksanakan dan berapa kali untuk masing-masing mata pelajaran.

1. Evaluasi formatif

Menurut Scriven (1991) dalam diktat teori dan praktek evaluasi program bimbingan dan konseling (Aip Badrujaman, 2009), evaluasi formatif adalah suatu evaluasi yang biasanya dilakukan ketika suatu produk atau program tertentu sedang dikembangkan dan biasanya dilakukan lebih dari sekali dengan tujuan untuk melakukan perbaikan. Sedangkan Weston, McAlpine dan Bordonaro (1995) dalam diktat teori dan praktek evaluasi program bimbingan dan konseling (Aip Badrujaman, 2009) menjelaskan bahwa tujuan dari evaluasi formatif adalah untuk memastikan tujuan yang diharapkan dapat tercapai dan untuk melakukan perbaikan suatu produk atau program. Hal ini senada dengan Worthen dan Sanders (1997) dalam diktat teori dan praktek evaluasi program bimbingan dan konseling (Aip Badrujaman, 2009) yang menyatakan bahwa evaluasi formatif dilakukan untuk memberikan informasi evaluatif yang bermanfaat untuk memperbaiki suatu program. Baker mengatakan ada dua faktor yang mempengaruhi kegunaan evaluasi formatif, yaitu kontrol dan waktu. Bila saran perbaikan akan dijalankan, maka evaluasi formatif diperlukan sebagai kontrol. Informasi yang diberikan menjadi jaminan apakah kelemahan dapat diperbaiki. Apabila informasi mengenai kelemahan tersebut terlambat sampai kepada pengambilan keputusan, maka evaluasi bersifat sia-sia.

Evaluasi formatif dapat menanggapi program dalam konteks yang dinamis, dan berusaha untuk memperbaki keadaan yang berantakan dari kerumitan yang merupakan bagian yang tidak dapat dihindarkan dari berbagai bentuk program dalam lingkungan kebijakan yang berubah-ubah. Kesesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan program baik pada konteks organisasi, personil, struktur, dan prosedur menjadi fokus evaluasi formatif.

Evaluasi formatif secara prinsip merupakan evaluasi yang dilaksanakan ketika program masih berlangsung atau ketika program masih dekat dengan permulaan kegiatan. Tujuan evaluasi formatif tersebut adalah mengetahui seberapa jauh program yang dirancang dapat berlangsung, sekaligus mengidentifikasi hambatan. Dengan diketahuinya hambatan dan hal-hal yang menyebabkan program tidak lancar, pengambil keputusan secara dini dapat mengadakan perbaikan yang mendukung kelancaran pencapaian tujuan program.

Teknik Evaluasi Formatif

Evaluasi formatif terdiri dari beragam bentuk. Menurut Martin Tessmer (1996) dalam diktat teori dan praktek evaluasi program bimbingan dan konseling (Aip Badrujaman, 2009) evaluasi formatif dapat dilakukan sebagai berikut:

  1. Review ahli (expert review)

Evaluasi dimana ahli yang mengkaji ulang program layanan dengan atau tanpa kehadiran evaluator. Ahli bisa ahli materi, ahli teknis, perancang, atau instruktur. Evaluasi ini dilakukan terhadap program muatan layanan yang masih kasar atau masih dalam rancangan (draft) untuk mengetahui kelebihan dan kelemahannya.

Kelebihan dari review ahli adalah:

  • Review menghasilkan tipe informasi yang berbeda jika dibandingkan dengan informasi yang diperoleh dari evaluasi orang per orang, kelompok kecil, atau uji lapangan.
  • Kadang-kadang ahli yang dibutuhkan telah ada dan dibayar dengan murah.

Sedangkan kelemahannya adalah:

  • Review ahli tidak memberikan pandangan atau pendapat dari sudut pandang siswa.
  • Review ahli membutuhkan biaya tinggi jika orang ahli harus didatangkan dari wilayah yang jauh.

Informasi yang dapat digali dari pelaksanaan review ahli antara lain:

  • Informasi yang berkaitan dengan content (materi), seperti kelengkapan, akurasi, kepentingan, serta kedalaman.
  • Informasi yang berkaitan dengan disain instruksional, seperti kesesuain dengan karakteristik, dan tugas perkembangan siswa, kesesuaian antara tujuan-materi-evaluasi, ketepatan pemilihan media, dan ketertarikkan bagi siswa.
  • Informasi yang berkaitan dengan implementasi, seperti kemudahan penggunaan, kesesuaian dengan lingkungan belajar sebenarnya, kesesuaian dengan lingkungan.
  • Informasi kualitas teknis, seperti kualitas layout, grafis, audio, visual, dll.
  1. Evaluasi orang per orang (one-to-one evaluation)

Evaluasi ini dilakukan dengan wawancara yang dilakukan secara perorangan oleh evaluator terhadap beberapa siswa dimana secara satu persatu siswa diminta untuk memberikan komentarnya mengenai program layanan yang sedang dikembangkan. Selain itu siswa juga biasanya diminta untuk menyelesaikan pre dan post test untuk mengukur efektifitas program layanan.

Keuntungan dari evaluasi ini adalah evaluasi ini memberikan informasi dari sudut pandang siswa, serta evaluasi ini dapat dilakukan dengan mudah, cepat, murah, dan produktif.

Informasi yang dapat diperoleh dari evaluasi ini meliputi beberapa aspek, antara lain:

  • Materi (content)

Seperti tingkat kesulitan, kejelasan, kemenarikan, serta kekinian materi.

  • Disain instruksional

Seperti kejelasan tujuan, kelogisan sistematika penyampaian materi.

  • Implementasi

Seperti tingkat kesulitan penggunaan, tingkat kemudahan dana, kemungkinan kesulitan yang dihadapi.

  • Kualitas teknis

Seperti kualitas animasi, video, serta layout.

Menurut Tessmer (1996) dalam diktat teori dan praktek evaluasi program bimbingan dan konseling (Aip Badrujaman, 2009) untuk memilih subyek dalam evaluasi satu per satu, ada beberapa karakteristik yang bisa dijadikan patokan, yakni:

  • Pengetahuan siswa: meliputi seberapa jauh mereka dapat mengetahui tentang materi yang akan diberikan (pre test).
  • Kemampuan siswa: apakah siswa mempunyai kemampuan intelektual dan strategi yang menunjukkan bahwa dirinya sebagai siswa dapat belajar cepat atau lambat.
  • Minat siswa: meliputi apakah mereka akan menunjukkan motivasi yang kuat untuk mempelajari dan mereview program layanan yang sedang dikembangkan.
  • Keterwakilan siswa: seberapa jumlah siswa dari populasi yang memiliki kemampuan, keterampilan, dan motivasi.
  • Kepribadian siswa: apakah cukup percaya diri dan terbuka untuk mengekspresikan kritiknya selama evaluasi.
  1. Evaluasi kelompok kecil (small group)

Evaluasi di mana evaluator mengujicobakan suatu program layanan pada suatu kelompok siswa dan mencatat performance dan komentar-komentarnya.

  1. Uji lapangan (field test)

Evaluasi di mana evaluator mengobservasi program layanan yang diujicobakan kepada sekelompok siswa tertentu dalam suatu situasi nyata. Evaluasi ini dilakukan terhadap suatu program layanan yang sudah selesai dikembangkan, tapi masih membutuhkan atau memungkinkan untuk direvisi akhir.

Salah satu kelebihan dari uji lapangan adalah bahwa dengan evaluasi ini akan diperoleh informasi apakah program layanan dengan menggunakan menggunakan metode tertentu akan benar-benar berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.

Menurut Tessmer (1996) dalam diktat teori dan praktek evaluasi program bimbingan dan konseling (Aip Badrujaman, 2009) beberapa fokus penggalian informasi yang perlu dijadikan patokan dalam uji lapangan adalah:

  • Kemampuan untuk dilaksanakan
  • Kesinambungan
  • Efektifitas
  • Kecocokan dengan lingkungan
  • Digunakan dalam beberapa variasi lingkungan

2. Evaluasi sumatif

Evaluasi sumatif dilakukan setelah program berakhir. Tujuan dari evaluasi sumatif adalah untuk mengukur pencapaian program. Fungsi evaluasi sumatif dalam evaluasi program pembelajaran dimaksudkan sebagai sarana untuk mengetahui posisi atau kedudukan individu di dalam kelompoknya. Mengingat bahwa obyek sasaran dan waktu pelaksanaan berbeda antara evaluasi formatif dan sumatif maka lingkup sasaran yang dievaluasi juga berbeda.

Pola evaluasi sumatif ini dilakukan apabila guru bermaksud untuk mengetahui tahap perkembangan terakhir dari siswanya. Asumsi yang mendasarinya adalah bahwa hasil belajar merupakan totalitas sejak awal hingga akhir.

Beberapa keuntungan dari evaluasi sumatif meliputi:

ü         Mereka bisa, jika dirancang dengan tepat, menyediakan bukti untuk sebuah hubungan sebab-akibat.

ü         Menilai hubungan jangka panjang.

ü         Menyediakan data mengenai dampak program.

3. Evaluasi formatif dan sumatif

  1. a. Model Formative-Summative Evaluation untuk Program Pemrosesan

Model evaluasi formatif-sumatif yang juga dikemukakan oleh Scriven ini mengemukakan adanya dua macam evaluasi, yaitu formatif (yang dilakukan selama program berlangsung), dan evaluasi sumatif (yang dilakukan sesudah program berakhir atau pada akhir penghujung program). Program pembelajaran dan kepramukaan adalah program yang kegiatannya memproses masukan melalui transformasi dan menghasilkan keluaran. Kata “memproses” sudah menunjukkan bahwa kegiatan dalam program tersebut berkesinambungan.

Dalam memahami bentuk kegiatan yang berkesinambungan kita dapat berpikir tentang pemenggalan beberapa kali sesuai dengan kesatuan yang dibentuk di dlaam program. Dengan pemenggalan para evaluator dapat melakukan evaluasi formative ketika proses berlangsung. Dalam program pembelajaran, bentuk pemenggalan tertera dalam terselesaikannya pokok bahasan setelah habis diajarkan kepada siswa. Dlaam program kepramukaan, bentuk pemenggalannya terletak pada akhir setiap jenis latihan. Untuk evaluasi sumatif tampaknya tidak ada masalah. Setiap jenis program tentu akan berakhir, dan pada akhir kegiatan program itulah evaluasi sumatif dilakukan.

Berdasarkan penjelasan melalaui dua contoh program diatas dapat disimpulkan bahwa model evaluasi sumatif dan formatif sesuai untuk mengevaluasi program pemrosesan. Evaluasi formatif dapat dilaksanakan pada penggalan kegiatan, sedangkan evaluasi sumatif dilaksanakan pada akhir program.

  1. b. Model evaluasi formative dan sumative untuk program layanan

Dalam pembahasan mengenai ketepatan model-model evaluasi untuk tiga buah layanan (program perpustakaan, program koperasi, program bank) yang dicontohkan, sudah secara dikaji pula kemungkinan evaluasi dilaksanakan sejak awal hingga akhir program secara berkesinambungan. Evaluasi formatif dan sumatif merupakan dua jenis kegiatan evaluasi yang dapat dikatakan merupakan bagian dari evaluasi berkesinambungan. Dengan penjelasan ini, dapat disimpulkan bahwa model evaluasi formatif dan sumatif tepat digunakan untuk program layanan.

Dalam konteks bimbingan dan konseling, evaluasi formatif dapat didefinisikan sebagai suatu proses pengumpulan data untuk menentukan keberhasilan atau menilai tentang kelebihan dan kelemahan suatu program ketika program tersebut masih dalam tahap pengembangan, kemudian setelah teridentifikasi (melalui evaluasi formatif) barulah dapat dilakukan revisi (perbaikan).      Tujuan evaluasi formatif adalah untuk merevisi program layanan yang sedang dikembangkan dengan cara mengumpulkan data dari berbagai sumber dengan menggunakan berbagai metode dan alat pengumpulan data tertentu.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi & Cepi Safrudin Abdul Jabar. (2009). Evaluasi program pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Bumi Aksara.

Badrujaman, Aip. (2009). Diktat teori dan praktek evaluasi program bimbingan dan konseling. Jakarta.

Gysbers, N. C., & Henderson, P. (2006). Developing and managing your school guidance and counseling program (4th ed.). Alexandria, VA: American Counseling Association.

__________, http://yuliku.blogspot.com/2008/06/pengukuran-dan-penilaian.html. Diakses 13 Oktober 2009.

____________, http://fakultasluarkampus.net/evaluasi-formatif/. Diakses 13 Oktober 2009.

____________, http://www.dese.mo.gov/divteachqual/profdev/counselorscorrected2.pdf. Diakses 13 Oktober 2009.

Gcreg07 member :

Gemma Maulidina
Fatimatul Baroroh
Herninda P
Shihandharu A.H
Nessia Arumilda
Windy Rosalia

Published in: on January 2, 2010 at 3:02 am  Leave a Comment  

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Published in: on January 2, 2010 at 2:50 am  Comments (1)